Minggu, 01 Juli 2012

MAKALAH FILSAFAT


MAKALAH FILSAFAT
PERKEMBANGAN MITOS MENJADI LOGOS

BAB I
Pendahuluan

1.1  Latar Belakang
     Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun bersistem menurut metode tertentu. Ilmu memiliki banyak cabang dalam perkembangannya. Apabila kita birpikir menurut sudut pandang satu ilmu saja, kita tidak dapat memecahkan suatu masalah. Oleh karena itu, dalam berpikir kita perlu menggunakan banyak cabang ilmu yang mendukung untuk terselesaikannya masalah tersebut. Ilmu kebanyakan bersifat teoritis, yang hanya memberikan suatu pernyataan. Pernyataan tersebut tentunya harus kita padukan dengan kemampuan logika serta menggunakan sudut pandang agama agar masalah yang sedang kita hadapi dapat terselesaikan dengan baik karena setiap masalah yang dihadapi oleh individu tidaklah sama antara satu dengan yang lainnya.  Pada dasarnya logika memiliki manfaat untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, rasional, dan lurus. Sedangkan agama memiliki manfaat untuk memberikan pedoman yang kuat setiap umatnya dalam menjalankan hidup. Namun, banyak fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini salah satu diantaranya yaitu salah jalan dalam menafsirkan agamanya sendiri. Masalah ini  terjadi pada individu ketika individu tersebut tidak menggunakan logika, ilmu, dan agama dalam menyelesaikan problem hidupnya. Mereka hanya menggunakan satu sudut pandang dari ketiga unsur berpikir tersebut. Apabila pikiran mereka sudah terfokus dengan sudut pandang itu saja, maka dalam bertindak mereka pun juga pastinya menyimpang dari norma yang ada pada msyarakat pada umumnya. Berlatar belakang tersebut, saya mencoba untuk membahas masalah berpikir dan bertindak dengan menggunakan logika, ilmu, dan agama agar tercapai kebenaran yang mutlak dan tidak menyimpang dari norma yang telah berlaku di msyarakat pada umumnya.



1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.      Apa perbedaan antara ilmu dengan ilmu pengetahuan?
2.      Apa pengertian dari logika dan macamnya?
3.      Apa pengertian dari agama serta manfaat apa yang dapat kita rasakan?
4.      Jelaskan definisi dari kebenaran agar kebenaran tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak?
5.      Jelaskan hubungan antara ketiga unsur (logika, ilmu, dan agama) dalam berpikir dan bertindak ?
6.      Bagaimana cara berpikir dan bertindak yang baik dan mendapatkan suatu kebenaran?

1.3  Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Mengetahui perbedaan antara ilmu pengetahun dan pengetahuan
2.      Mengetahui pengertian logika dan macamnya
3.      Memahami pengertian dari agama dan perannya
4.      Mengerti definisi dari kebenaran agar kebenaran tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak
5.      Memahami hubungan antara ketiga unsur (logika, ilmu, dan agama) dalam berpikir dan bertindak
6.      Mengetahui bagaimana cara berpikir dan bertidak yang baik  dan mendapatkan suatu kebenaran

1.4  Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini adalah:
a.       Untuk mengkaji tentang pentingnya logika, ilmu, dan agama dalam berpikir dan bertindak,
b.      Bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat agar berpikir dan bertindak yang benar baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat.

BAB II
Pembahasan

A. KAJIAN TEORI

2.1 DEFINISI ILMU
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu merupakan istilah yang memiliki beragam makna. Menurut The Liang Gie ilmu dapat dibedakan menurut cakupannya. Pertama ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan. Dalam arti yang pertama ini ilmu mengacu pada ilmu seumum-umumnya. Adapun arti yang kedua ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari satu pokok soal tertentu. (Kuswanjono, Arqom: 2009)
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi. Pengertian ilmu menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :
Ashley Montagu
Menyebutkan bahwa “Science is a systemized knowledge services form observation, study, and experimentation carried on under determine the nature of principles of what being studied.” (ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu system yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip hal yang sedang dipelajari).

Harold H. Titus
Mendefinisikan “Ilmu (Science) diartikan sebagai common science yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis.

Dr. Mohammad Hatta
Mendefinisikan “Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunannya dari dalam.”

Drs. H. Ali As’ad
Dalam buku Ta’limul Muta’allim menafsirkan “Ilmu adalah suatu sifat yang kalau dimiliki oleh seorang maka menjadi jelaslah apa yang terlintas di dalam pengertiannya”
Contoh dari definisi ilmu oleh para ahli untuk memperjelasnya yaitu seperti adanya Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.
Ilmu (Bahasa Inggris:Knowledge) merujuk kepada kefahaman manusia terhadap sesuatu perkara, yang mana ia merupakan kefahaman yang sistematik dan diusahakan secara sadar. Pada umumnya, ilmu mempunyai potensi untuk dimanfaatkan demi kebaikan manusia.
Biasanya, ilmu adalah hasil daripada kajian terhadap sesuatu perkara. Dalam hal ini, ilmu sendiri juga boleh menjadi sasaran kajian dan menghasilkan apa yang dikenali sebagai "ilmu mengenai ilmu", yakni epistemologi.
Ciri-ciri Ilmu adalah sebagian daripada aspek kognitif yang terdapat dalam diri manusia. Maka dengan itu ilmu adalah berkaitan dengan aspek kognitif manusia yang lain seperti pengetahuan, pengalaman, dan juga perasaan. Tetapi pada masa yang sama, ilmu ada yang berbeda dengan perkara-perkara ini dan ciri-cirinya adalah seperti berikut:
Ciri ini membedakan ilmu dengan perasaan dan pengalaman. Contohnya, sesetengah "pengalaman diri" seperti mimpi adalah sukar dipertuturkan melalui bahasa. Tetapi bagi ilmu, ia haruslah sesuatu yang dapat dipertuturkan melalui bahasa. Ilmu mempunyai nilai kebenaran. Ciri ini membedakan pengucapan ilmu dengan pengucapan sastra yang biasanya mengandungi unsur-unsur tahayul.
Ilmu adalah objektif. Ciri ini bermaksud bahwa ilmu adalah sesuatu yang tidak dapat diubah menurut keinginan ataupun kesukaan seseorang individu. Ilmu diperolehi melalui kajian. Ilmu adalah hasil daripada kajian. Ia bukanlah sesuatu rekaan. Ilmu mengenai cara memeroleh ilmu itu dikenali sebagai perkaedahan penyelidikan ilmiah.
Ilmu pengetahuan merupakan lanjutan dari konsepasional dari ciri “ingin tahu” sebagai kodrat manusiawi. Tetapi pengetahuan itu menuntut persyaratan-persyaratan khusus dalam pengaturannya. Dalam hal ini yang terpenting adalah sistem dan metode ilmu pengetahuan itu. (Bakker, Anton: 1990)
Kandungan Ilmu sentiasa bertambah. Ilmu adalah sentiasa berada dalam proses pertemabahan, pemantapan dan penyempurnaan.  ilmu adalah sesuatu yang membedakan kita dengan mahluk tuhan lainnya seperti tumbuhan dan hewan. Dengan ilmu kita dapat melakukan,membuat,menciptakan sesuatu yang dapat membawa perbedaan yang lebih baik bagi diri kita sendiri.
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu. Sifat ilmu ada empat yakni:
1.      Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni pernyesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif, bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
2.      Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3.      Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4.      Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180ยบ. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

2.2 SIFAT-SIFAT ILMU

Dari definisi yang diungkapkan Mohammad Hatta dan Harjono di atas, kita dapat melihat bahwa sifat-sifat ilmu merupakan kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu yang bersifat:
1.      Berdiri secara satu kesatuan,
2.      Tersusun secara sistematis,
3.      Ada dasar pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan disertai sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data),
4.      Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.
5.      Communicable, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat dimengerti dan dipahami maknanya.
6.      Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku di mana saja dan kapan saja di seluruh alam semesta ini.
7.      Berkembang, ilmu sebaiknya mampu mendorong pengetahuan-pengatahuan dan penemuan-penemuan baru. Sehingga, manusia mampu menciptakan pemikiran-pemikiran yang lebih berkembang dari sebelumnya.
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur namun sifatnya juga berguna.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan pengamatan yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.
Selain pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang didapatkan melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori yang tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi.
Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia itu sendiri dan kehidupanya.
Sementara sumber-sumber pengetahuan adalah berasal dari tahu akan suatu peristiwa dan realitas objektif di alam semesta ini, dan tahu adalah hasil daripada kenal,sadar, insaf, mengerti dan pandai.
Perbedaan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan adalah terletak pada konsep dari keduanya, dimana pengetahuan lebih spontan sifatnya, sedangkn ilmu pengetahuan lebih sistematis dan reflektif, sesuai dengan pengertiannya bahwa ilmu pengetahuan adalah keseluruhan system pengetahuan manusia yang telah dibakukan secara sistematis. Dengan demikian pengetahuan jauh lebih luas daripada ilmu pengetahuan karena pengetahuan mencakup segala sesuatu yang diketahui manusia tanpa perlu berarti telah dibakukan secara sistematis. Pengetahuan mencakup penalaran, penjelasan tentang manusia mengetahui sesuatu, juga mencakup praktek atau kemampuan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum dibakukan secara sistematis dan metodis.
2.3 KRITERIA ILMU
Ilmu merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk memperadab dirinya. Ketika manusia merenung tentang apa artinya menjadi seorang manusia,lambat laun mereka sampai pada kesimpulan bahwa mengetahui kebenaran adalah tujuan yang paling utama dari manusia. Perkembangan ilmu pada waktu lampau dan sekarang merupakan jawaban dari rasa keinginan manusia untuk mengetahui kebenaran. 
Ilmu dapat di anggap sebagai suatu sistem yang menghasilkan kebenaran. Dan seperti juga sistem- sistem yang lainnya mempunyai komponen - komponen yang berhubungan satu sama lainnya. Komponen utama dari sistem ilmu adalah: 
a. Perumusan masalah
b. Pengamatan dan diskripsi
c. Penjelasan 
d. Ramalan dan kontrol 
Kebenaran ilmu ini tidak dapat di temukan dan dikembalikan kepada data empiris melainkan kepada akal. Semua ilmu yang tidak tergantung kepada pengalaman dan eksperimen termasuk begitu juga logika.
Secara umum filsafat membedakan dua sumber pengetahuan, yaitu indera dan budi. Maka pengetahuan yang mungkin dimiliki oleh manusia, yakni pengetahuan inderawi dan pengetahuan intelektif. 

2.4 DEFINISI LOGIKA
Secara etimologi (bahasa) logika berasal dari bahasa Yunani, kata sifat dari logos yang berarti kata atau pikiran yang benar, jadi ditinjau dari segi bahasa semata ilmu logika adalah pengetahuan tentang berkata benar. Oleh karena itu dalam bahasa arab ilmu logika ini dinamakan ilmu mantiq yang berarti ilmu tentang bertutur kata yang benar. Sedangkan menurut terminologi (istilah) ilmu logika adalah pengetahuan yang istematis sekaligus mempelajari tentang aturan-aturan dan hukum-hukum berpikir yang dapat mengantarkan manusia pada kebenaran berpikir. Pengetahuan rasional
Macam pengetahuan yang lebih tinggi lagi dan yang khas untuk manusia saja, ialah logika. logika itu dicirikan akan sebab mustabab suatu keputusan. Ia tak terbatas pada kepekaan indera tertentu dan tidak hanya tertentu pada objek tertentu. Logika  ada dua macam tingakatan:
1.      Pengetahuan biasa
Setiap orang memiliki pengetahuan biasa, yakni pengetahuan tanpa usaha khusus. Pengetahuan ini bersifat intuitif-spontan dan tidak beberapa memakai  penalaran formal. Pengetahuan itu diperoleh melalui pergaulan normal dengan orang lain dan dunia sekitarnya, yang meliputi banyak tingkat: pengertian terhadap benda biasa, pengertian tanaman dan ternak, dan  pengetahuan akan manusia.
2.      Pengetahuan ilmiah ialah pengetahuan yang terorganisasi, yaitu dengan sistem dan metode berusaha mencari hubungan-hubungan tetap di antara gejala – gejala yang ada. Pengetahuan ilmiah empiris mengumpulkan gejala-gejala tersebut dan tetap tinggal dalam garis kawasan horizontal. (Bakker, Anton: 1990)

2.5 MANFAAT ILMU LOGIKA
Apabila kita berpikir menggunakan logika, maka kita dapat mnggambil beberapa manfaatnya, diantaranya yaitu:
1.      Membantu setiap orang agar dapat berpikir secara rasional, kritis, lurus, tepat, tertib, metodis dan koheren.
  1. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat dan objektif.
  2. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  3. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kekeliruan serta kesesatan.
Jadi, ilmu logika tidak akan pernah tercapai oleh seseorang kebenaran secara ilmiah tanpa melalui aturan-aturan atau hukum-hukum yang telah tertera di dalam buku ilmu logika tersebut. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Aristoteles logika merupakan alat bagi seluruh ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pula, barang siapa telah mempelajari logika, sesungguhnya ia telah menggengam kemudi untuk membuka semua pintu masuk ke berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Maka dari itu ilmu logika bisa dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang pasti terbukti tersusun secara sistematis tentang asas-asas agar yang menentukan pemikiran yang sehat dan benar serta lurus. Seperti ilmu kimia misalnya menyelidiki hukum-hukum yang berlaku. Untuk susunan atau reaksi-reaksi materi. Maka demikian ilmu logika, menyelidiki, merumuskan, membuktikan dan menerapkan hukum yang harus dapat ditaati untuk dapat berpikir dengan tepat dan teratur.

2.6  MACAM-MACAM ILMU LOGIKA
Dalam membicarakan definisi logika di atas, logika juga memiliki macamnya yaitu:
1.      Logika Alam, natural atau kodraniah yaitu logika (berpikir) yang dilakukan atas dasar kodrat dan fitrah manusia.
2.      Logika yang diupayakan, artificial atau ilmiah yaitu logika (berpikir atas dasar upaya yang telah dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan dapat dipelajari. Logika artificial ini dibedakan menjadi dua macam :
·         Material yang dinamakan pula logika Mayor, adalah logika yang mempelajari langsung pekerjaan akan dan menilai hasil-hasil logika formal atau logika minor, dan mengujinya dengan kenyataan praktis yang sesungguhnya. Di samping itu juga mempelajari sumber-sumber atau asal pengetahuan proses terjadinya pengetahuan dan merumuskan metode pengetahuan yang pada gilirannya akan melahirkan macam teori ilmu pengetahuan.
·         Logika formal yang juga dinamakan logika minor adalah logika yang mempelajari asas-asas aturan atau hukum-hukum berpikir yang harus ditaati, agar orang dapat berpikir yang lurus dan mencapai kebenaran. Logika formal mempunyai tiga pokok yaitu pembahasan, sekaligus merupakan langkah-langkah berpikir logis. Ketiga pokok antara lain, Pengertian (konsep), Keputusan (pendapat), dan Pemikiran (menarik kesimpulan).

Logika positivisme adalah salah satu gerakan filsafat terbesar sepanjang abad dua puluh. Logika positivisme awalnya berakar dari sebuah tesis tentang  kriteria dari pemaknaan sesuatu hal, yang disebut “prinsip verifikasi”. Makna dari sebuah pernyataan dari prinsip ini dapat diberikan dengan menetapkan langkah-langkah yang dapat diambil untuk memverifikasikan apakah pernyataan itu benar atau salah. Namun yang penting dari logika positivisme ini adalah bukan menentukan apakah pernyataan ini salah atau benar, namun hal ini merupakan tugas dari ilmu pengetahuan. Sesuatu memiliki makna apabila memiliki isi yang empiris. Yaitu isi yang dapat dibuat penelitian untuk menemukan nilai kebenarannya. Hal ini mengungkapkan sesuatu yang berharga karena hal tersebut mengatakan sesuatu tentang dunia. (Garvey, James: 2010)

2.7 DEFINISI AGAMA
     Agama secara etimologi berasal dari bahasa Arab “aqoma” yang berati ‘menegakkan’. Sementara kebanyakan ahli mengatakan bahwa agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu a (tidak) dan gama (berantakan), sehingga agama berati tidak berantakan. Namun ada pula yang mengartikan a adalah cara dan gama berarti jalan. Agama berarti cara-cara berjalan untuk sampai kepada keridhaan Tuhan. (H.M Arifin: 1992)
Selain dua pandangan tersebut kata’agama’ sering disejajarkan dengan kata majemuk “negara kertagama” yang berarti aturan tentang kemakmuran agama, atau juga dengan kata majemuk “asmaragama” yang berarti peraturan tentang asmara, dengan kata lain agama dalam hal ini dapat diartikan peraturan atau tata cara. (Endang saifuddin anshari:1991)
Oxford Student dictionary (dalam Azra, 2000) mendefenisikan bahwa agama adalah suatu kepercayaan akan keberadaan suatu kekuatan pengatur supranatural yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta. Dalam bahasa Arab agama berasal dari kata Ad-din, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, dan kebiasaan.

2.8 FUNGSI AGAMA
Menurut Kuswanjono: 2009, agama memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai berikut:
a.       Fungsi edukatif
Ajaran agama memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi. Dalam hal ini bersifat menyuruh dan melarang agar pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik.
b.      Fungsi penyelamat
Keselamatan yang diberikan oleh agama kepada penganutnya adalah keselamatan yang meliputi dua alam yaitu dunia dan akhirat.
c.       Fungsi perdamaian
Melalui agama, seseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntunan agama.
d.      Fungsi pengawasan sosial
Ajaran agama oleh penganutnya dianggap sebagai norma, sehingga dalam hal ini agama dapat berfungsi sebagai pengawasan social secara individu maupun kelompok.
e.       Fungsi pemupuk rasa solidaritas
Para penganut agama yang sama secara psikologis akan merasa memiliki kesamaan dalam kesatuan; iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini akan membina rasa solidaritas dalam kelompok maupun perorangan, bahkan kadangkadng dapat membina rasa persaudaraan yang kokoh.
f.       Fungsi transformatif
Ajaran agama dapat mengubah kehidupan kepribadian seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, kehidupan baru yang diterimanya berdasarkan ajaran agama yang dipeluk kadangkala mampu merubah kesetiaannya kepada adapt atau norma kehidupan yang dianut sebelumnya.
g.      Fungsi kreatif
Ajaran agama mendorong dan mengajak para penganutnya untuk bekerja produktif bukan saja untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Penganut agama bukan saja disuruh bekerja secara rutin dalam pola hidup yang sama, akan tetapi juga dituntut untuk melakukan inovasi dan penemuan baru.
h.      Fungsi sublimatif
Ajaran agama mengkuduskan segala usaha manusia, bukan saja yang bersifat agama ukhrawi melainkan juga yang bersifat duniawi. Segala usahamanusia selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama bila dilakukan atas niat yang tulus, karena dan untuk Allah merupakan ibadah.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi agama bagi manusia yaitu fungsi edukatif, fungsi penyelamat, fungsi perdamaian, fungsi pengawasan sosial, fungsi pemupuk solidaritas, fungsi transformatif, fungsi kreatif dan fungsi sublimatif.

2.9 KRITERI KEBENARAN
Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih diluar kepercayaan. Bila hubungan ini tidak ada, maka kepercayaan itu adalah salah. Suatu kalimat dapat disebut “benar” atau “salah”, meskipun tak seorang pun mempercayainya, asalkan jika kalimat itu dipercaya, benar atau salahnya kepercayaan itu terletak pada masalahnya.  
Ada dua cara berfikir yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan pengetahuan baru yang benar, yaitu melalui metode induksi dan metode deduksi. Induksi adalah cara berfikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Penalaran ini dimulai dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Cara penalaran ini mempunya idua keuntungan. Pertama, kita dapat berfikir secara ekonomis. Meskipun eksperimen terbatas pada beberapa kasus individual, kita  mendapatkan pengetahuan yang lebih umum tidak sekedar kasus yang menjadi dasar pemikiran kita. Kedua, pernyataan yang dihasilkan melalui cara berfikir induksi tadi memungkinkan proses penalaran selanjutnya, baik secara induktif maupun deduktif. 
Deduksi merupakan kegiatan berfikir merupakan kebalikan dari penalaran induksi. Deduksi adalah cara berfikir dari pernyataan yang bersifat umum, menuju kesimpulan yang bersifat khusus. 
Usaha untuk mendefinisikan atau memberi batasan kebenaran mengalami banyak kesulitan misalnya sukar untuk menghindari proyeksi posisi seorang filsuf kedalam suatu definisi. Marilah kita sepakati bersama bahwa kebenaran adalah suatu pertimbangan yang sesuai dengan realitas. Kebenaran adalah suatu pertimbangan yang sesuai dengan realitas, bahwa pengetahuan kita mengenai realitas dan kenyataan sejajar secara harmonis, sehingga sistem - sistem pendapat yang diintegrasikan dalam benak kita secara terperinci tepat dengan dunia realitas. 
Kepercayaan tentang apa yang tidak pernah dialami, tidaklah berkenan  Manusia selalu dirangsang tentang kebenaran tidaklah berkenan dengan individu yang tidak pernah mengalami, tetapi berkenaan dengan kelas dimana tidak seorangpun dari anggotanya pernah dialami. Suatu kepercayaan harus selalu sanggup untuk dianalisis dan ke dalam unsur-unsur dimana pengalaman membuatnya dapat paham, tetapi bila suatu kepercayaan diuraikan dalam bentuk logis ia sering membawa kita pada analisis yang berbeda, yang agaknya akan menyangkut komponen-komponen yang tidak diketahui dari pengalaman. Bila analisis psikologis yang menyesatkan dihindari, kita dapat mengatakan secara umum  bahwa setiap kepercayaan yang tidak semata-mata merupakan dorongan untuk bertindak pada hakikatnya merupakan gambaran digabung dengan suatu perasaan yang mengiyakan atau meniadakan, dimana dalam perasaan yang mengiyakan adalah benar, sedangkan dalam perasaan yang meniadakan, ia adalah benar bila tak terdapat fakta seperti itu. Suatu kepercayaaan yang tidak benar disebut salah. Inilah suatu definisi tentang kebenaran. 
Manusia selalu dirangsang berbagai masalah tentang kebenaran dan ingin selalu berusaha merumuskan definisi tentang kebenaran. Tiga penafsiran utama telah timbul, yaitu:
1.      Kebenaran sebagai sesuatu yang mutlak
2.      Kebenaran sebagai sesuatu yang subyektif, sebagai masalah pendapat pribadi
3.      Kebenaran sebagai suatu kesatuan yang tidak bisa dicapai, sesuatu yang tidak mungkin.
Kebenaran-kebenaran tersebut didukung oleh argumentasi-argumentasi yang terkandung pada sifat kebenaran itu sendiri. Kebenaran yang mutlak dituntut untuk dapat diterima secara umum dengan dukungan data dan argumentasi ilmiah yang kuat. Sifat kebenaran mutlak ini menuntut  syarat -syarat yang lebih berat, sedangkan yang subyektif tentunya masih dibatasi oleh pengalaman subyek tertentu dalam lingkungan pergaulannya, dan kebenaran yang tidak bisa dicapai adalah pencapaian kebenaran atau kenyataan bahwa sesuatu tidak mungkin terjadi. Kebenaran pada hakikatnya adalah tujuan dari aktivitas ilmu pengetahuan yang selalu berkembang, jadi mencari kebenaran sebagaimana telah dikemukakan adalah tujuan ilmu pengetahuan. 
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan perbedaan ilmu pengetahuan dengan pengetahuan. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari aktifitas mengetahui, yakni tersingkatnya suatu pernyataan ke dalam jiwa hingga tidak ada keraguan terhadapnya. Sedangkan ilmu merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk memperadab dirinya,  Ilmu dapat dianggap sebagai suatu sistem yang menghasilkan kebenaran. Dan seperti itu juga sistem - sistem yang lainnya mempunyai komponen- komponen yang berhubungan satu sama lainnya.
Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih diluar kepercayaan. Bila hubungan ini tidak ada, maka kepercayaan itu adalah salah. Suatu kalimat dapat disebut “benar” atau “salah”, meskipun tak seorang pun mempercayainnya, asalkan jika kalimat itu dipercaya, benar atau salahnya kepercayaan itu terletak pada masalahnya. (Bakker, Anton: 1990)
B. ANALISIS
Pada dasarnya penalaran menggunakan logika, ilmu, dan agama memiliki kelebihan masing-masing. Logika meningkatkan kemampuan berpikir kita menjadi rasional atau sesuai dengan keadaan liangkungan saat ini, meningkatkan ketajaman berpikir, serta mampu menunjukkan jalan yang lurus agar tidak masuk dalam kesesatan. Namun, logika juga memiliki kekurangan apabila kita hanya berpikir menggunakan logika saja.
Berpikir dengan logika memang terkadang perlu, tetapi yang perlu diingat adalah tidak semua hal selalu bisa dicerna dengan logika kita, terkadang ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan tidak hanya dengan menggunakan logika manusia saja karena ada beberapa keterbatasan dan kelemahan di dalamnya layaknya manusia yang juga tidak sempurna dan punya keterbatasan dalam kehidupannya.
Jika kita melihat kelebihan ilmu pengetahuan, kita dapat merasakan betapa besar manfaatnya yaitu diantaranya kita dapat mengetahui secara tepat informasi yang kita dapat karena ilmu memiliki karakteristik yang ilmiah dan membutuhkan penelitian untuk menjadikannya sebuah ilmu, kita dapat mempelajarinya dan menyalurkan ilmu tersebut kepada generasi selanjutnya karena ilmu bersifat pasti dan tidak dapat diubah.
Ilmu pengetahuan pada umumnya memerlukan pemulihan  informasi lewat reduksi antar-teori, da tidak ada alasan istimewah untuk memperlihatkan standar tersebut. (dalam Horst, Steven. 2010)
Namun sama halnya dengan logika, apabila kita berpikir menggunakan sudut pandang ilmu saja maka ketidak seimbangan berpikir dan bertindaklah yang kita dapatkan. Hal yang perlu diingat adalah bahwa ilmu bisa mengakibatkan manusia tersesat. Ternyata ilmu saja tidaklah cukup, oleh karenanya, harus didukung oleh dan didasari dengan konsep berpikir lainnya.
Seseorang belajar ilmu menuntut pengetahuannya untuk dipahami informasi tersebut, sedangkan belajar agama menuntut pengetahuan untuk beribadat. (dalam Drs Lasiyo: 1985)
Agama juga memiliki kelebihan tersendiri yaitu kita dapat berpikir dan bertindak sesuai dengan wahyu yang telah diturunkan oleh Sang Pencipta, dapat menenangkan pikiran manusia apabila mendapati suatu masalah dalam hidup. Walaupun demikian, apabila kita hanya berpikir hanya berlandaskan agama saja dan tidak menggunakan landasan lain yang mendukung, maka kesesatan jalan kita alami karena wahyu yang diturunkan oleh Sang Pencipta tersebut memiliki tingkat penafsiran berbeda-beda antara individu satu dengan yang lainnya.
Dekonstruksi berkaitan dengan pembacaan ulang terhadap teka-teki yang begitu saja diterimasebagai suatu kebenaran. ‘Kebenaran’macam inilah yang selalu  menjadi beban dalam perkembangan pemikiran manusia. Seolah-olah dalam setiap pemikiran, dibebankan sebuah kebenaran, entah di atasnamakan keilmiahan, hukum, ataupun agama. (dalam Audifax: 2008)
Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingaktan-tingkatan dalam hal menangkap kebenaran. Setiap tingkatan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan tingkatan terendah dalam struktur tersebut; tingkat berikutnya lebih tinggi, sampai tingkat tertinggi yaitu pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkatan lebih rendah memandang kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnya pada tingkat indrawi dan naluri. Maka tingkat pengetahuan yang lebih rendah harus diliputi, dilengkap, dan dibatasi atas pengetahuan yang lebih tingi darinya. (Bakker, Anton: 1990)
Dengan alasan yang tertera di atas, maka dalam berpikir kita perlu menggunakan ketiga unsur tersebut yaitu logika, ilmu, dan agama. Kebenaran dalam berpikir dan bertindak juga dapat kita dapatkan agar dalam kehidupan bermasyarakat dapat berjalan dengan baik dan normal.
Ilmu, agama, dan logika tidak dapat dipisahkan dan tidak akan mengalami konflik karena pada alam ketetapan kebenaran ilmu, agama, dan logika berada dekat dengan sumber kebenaran berpikir. Perbedaan dari ketiga unsur ini hanya terjadi pada alam materi. Pada tingkat alam materi ini, bail ilmu, agama, dan logika berada sebagai konsep, yaitu dalam pikiran manusia. Kebenaran logika menghasilkan kebenaran ilmu dan kebenaran ilmu menghasilkan kebenaran agama yang kemusian dapat digunakan oleh manusia dalam berpikir maupun bertindak. (Fransiscus borgias: 2004)
























BAB III
Penutupan

3.1 Kesimpulan
Ilmu adalah suatu pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun bersistem menurut metode tertentu, maka dari itu ilmu memiliki banyak cabang dalam perkembangannya. Logika membuat seseorang memiliki kemampuan berpikir rasional, kritis, dan lurus. Sedangkan agama adala tindakan-tindakan pada suatu sistem sosial dalam diri orang-orang yang percaya pada suatu kekuatan tertentu dan berfungsi agar dirinya dan masyarakat dapat selamat. Ketiga unsur tersebut merupakan bagian yang terpenting dalam berpikir dan bertindak. Dalam berpikir dan bertindak kita harus menggunakan ketiga unsur tersebut secara terkonsep karena apabila kita hanya menggunakan satu diantara ketiganya, maka kebenaran dalam berpikir dan bertindak tidak akan kita dapatkan.

3.2 Saran
Dalam pembuatan makalh ini saya berharap agar masyarakat dapat berpikir dan bertindak dengan menggunakan logika, ilmu, dan agama agar mendapat suatu kebenaran yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di lngkungan sosial.












DAFTAR PUSTAKA

Audifax . 2008. Filosofi Jiwa. Yogyakarta: Pinus Book Publisher
Azra, Azyumardi. 2000. Agama Substansif. Universitas Michigan: Mizan.
Bakker, Anton. 1990. Metodelogi penelitian filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
Endang Saifuddin Anshari. 1991. Ilmu filsafat dan agama. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Fransiscus Borgias. 2004 . Perjumpaan Sains dan Agama: dari Konflik ke Dialog. Bandung: Mizan.
Garvey, James. 2010. 20 Karya Filsafat Terbesar. Yogyakarta: Kanisius.
H.M Arifin. 1992. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar. Jakarta: PT. Golden Terayon Press.
Horst, Steven. 2010. Melampaui Reduksi.  Yogyakarta: Pall Mall.
Kuswanjono, Arqom. 2009. Integrasi Ilmu dan Agama. Yogyakarta: Lima.
Lasiyo, Drs. 1985. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Liberty
Sunarji, Dahri Tiam. Langkah-Langkah Berfikir logis. CV.  Pamekasan: Bumi Jaya